Mithologi Ratu Adil

MITHOLOGI RATU ADIL

Sudah beberapa bulan belakangan ini di beberapa sudut kota, di beberapa slot iklan TV mulai diramaikan oleh sejumlah informasi mengenai sosok calon presiden.

“Sastro untuk Indonesia, Suloyo is the best, Kancil untuk Kesejahteraan Indonesia, Ahmad Dalimin anti Korupsi”, kira-kira seperti itu bunyi kampanye “prewed” tersebut. Semakin dekat dengan pelaksanaan Pemilu Presiden akan semakin kuat perhatian masyarakat terhadap konsep sosok calon pemimpin mereka. Wajar saja, karena baik buruknya sang pemimpin akan mencerminkan baik buruknya masyarakat yang memilihnya. Begitu pentingnya deskripsi calon pemimpin itu sehingga sebagian masyarakat banyak juga yang berspekulasi melalui mithologi, yaitu suatu kerangka nilai tertentu, yang diyakini begitu saja tanpa dikritisi, terhadap sosok calon pemimpin  mereka. Anehnya, kepercayaan terhadap mitos itu tidak hanya terjadi di Indonesia saja, melainkan juda berlaku di negara maju seperti Amerika dan di negeri tetangga kita yang kaya itu.

Di sebagian masyarakat suku Jawa, calon pemimpin idaman mereka adalah Ratu Adil, adalah sosok yang dianggap dapat menghadirkan kepemimpinan yang adil, yang menyejahterakan rakyat. Sosok semacam itu adalah sosok yang mendapat wahyu (bukan nama orang) berupa secercah sinar terang dari langit. Ratu Adil itu diyakini sebagai “Satriyo Piningit”, seorang ksatria yang tersembunyi (entah dimana). Cepat atau lambat, sosok itu diyakini akan muncul hadir di tengah kita.

Hingga jaman Orde Baru, pola kempemimpinan Indonesia diyakini menganut konsep NOTONAGORO, yaitu suatu pendapat yang meyakini bahwa suku kata terakhir nama-nama pemimpin Indonesia secara berturutan sesuai dengan sekuen No-To-Na-Go-Ro. Misalnya, nama presiden pertama kita SoekarNO, yang kedua adalah SoehartTO. Walaupun dengan rekayasa otak-atik ejaan nama-nama presiden kita berikutnya masih bisa dikaitkan dengan konsep Notonagoro, tetapi mitologi ini lucu. Beberapa pihak yang masih “menikmati” mitos ini menganggap bahwa YudoyoNO (SBY) sebenarnya merupakan siklus baru dari Notonagoro itu, sehingga capres berikut sangat mungkin adalah siapapun yang suku kata terakhir namanya ada TO-nya. Bisa WiranTO, PrabowoTO, IcalTO, atau buTO. Yang jelas bukan WarsiTO.

Walaupun kedengaran tidak masuk akal(namanya juga mitos), pola kepemimpinan di Amerika Serikat (AS) juga ada mitologinya. Masyarakat AS sangat meyakini bahwa para presiden mereka itu selalu memenuhi kriteria WASP, yaitu selalu berkulit putih (White), keturunan Inggris (Anglo Saxon) dan beragama Protestan. Mitos WASP ini hanya mengecualikan 2 orang saja, yaitu presiden John F Kennedy, yang “menyimpang” dengan agama Katholik yang kemudian terbunuh sebelum masa jabatannya berakhir, dan tahun ini di AS diperingati 50 tahun peristiwa pembunuhan tersebut. Yang kedua adalah presiden Obama yang “mengecuali” dengan warna kulitnya. Bukan putih, tetapi juga bukan hitam. Kebetulan ibunya adalah Anglo Saxon. Kalau WASP itu merupakan mitos yang empiric, yang disusun berdasarkan sesuatu yang telah terjadi, maka mitos itu juga bisa dikembangkan menjadi WASPM, yaitu bahwa presiden AS selalu adalah White, Anglo Saxon, Protestant dan Male(laki-laki). Ternyata di negara kampiun demokrasi itu belum punya pengalaman dipimpin oleh seorang perempuan. Sedangkan kita malah sudah pernah dipimpim oleh Ibu Mega.

Di Malaysia, Negara tentangga yang kaya dan taat muslimnya itu pun juga punya mitos mengenai pemimpinnya. Hampir mirip dengan konsep Notonagoro, inisial nama-nama perdana menteri Malaysia itu secara berurutan mengikuti ejaan RAHMAN, nama belakang pendiri Malaysia. Perhatikan dengan seksama nama perdana menteri mereka yang pertama Rahman(Abdul Rahman), yang kedua Abdul Razak, yang ketiga Hussein Onn, yang keempat Mahathir Mohamad, yang kelima Abdullah Badawi (dulu ada yang meyakini Anwar Ibrahim bakal naik tahta, tapi nyatanya Abdullah Badawi yang sama-sama berinisial “A”), yang keenam Najib. Sukar dipercaya tetapi demikianlah kenyataannya. Dalam konsep RAHMAN, setelah Najib (N) akan berulang kembali ke “R”. Banyak orang berseloroh, kalau Anwar Ibrahim masih pengen jadi perdana menteri, sebaiknya namanya diganti menjadi Ranwar Ibrahim sesuai dengan petuah mitos itu. Bagi yang namanya Rudi, Rano, Rakus, Rumit atau Rapopo, silahkan mendaftar menjadi calon perdana menteri Malaysia mendatang, untuk mendukung mithologi Rahman tersebut. Hahh?

 
Membara
Image Detail

Hubungi kami

Email Anda 
Subject 
Pesan 
Please enter the following hvi Help us prevent SPAM!